Selasa, Oktober 08, 2013

Ciwidey, Perjalanan Menuju Suhu Beku (Empat ~Akhir)

Dari tempat perkemahan menuju gerbang Kawah Putih cukup dekat. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Jalanannya pun keren. Dengan kanan-kiri pepohonan yang rimbun serta banyak uap air menjadikannya semakin eksotis. Tak lupa sedikit foto-foto di jembatan yang kami lalui. 


            Sudahkah miripkah dengan setan OVJ yang muncul dilatari asap?
Juga di gerbang utama Kampung Cai Ranca Upas. Ternyata kami kemarin masuk ke Ranca Upas melalui jalan samping yang kecil dan menyeramkan. (Pantesan Fitriya takut).

Saat di depan gerbang Kawah Putih, ada angkot yang menawarkan untuk mengantar kami ke atas. Tentu saja kami menolak. Alasannya karena satu mobil saja bisa 100.000 ditambah biaya masuk, kalau jujur sih 15.000/orang. Belum lagi retribusi angkot itu naik seharga 65.000. Total kalau carter angkot untuk enam orang bisa 255.000

Coba bandingkan dengan memakai angkutan resmi Kawah Putih bernama Ontang-Anting dengan biaya masuk 28.000/orang (15.000 biaya masuk, dan 13.000 biaya Ontang-Anting). Kalau dijumlahkan sekitar 168.000
Jauh kan, bedanya?

Pertama naik Ontang-Anting masih bingung, kenapa namanya begitu? Dalam bayanganku Ontang-Anting itu mirip Kora-kora di Ancol. Ternyata cuma angkutan mobil carry biasa yang dimodifikasi bagian belakang terbuka kanan-kiri. Lalu di depan tempat duduk ada besi-besi sebagai tempat pegangan. Catatan, kalau mengajak anak kecil sebaiknya didudukkan di tengah saja. Supaya aman.
Di Kawah Putih tidak bisa lama-lama, karena di pagi hari bau sulfur sangat menyengat. Kami Cuma sekitar 15 sampai 20 menit saja di sana. Tak lupa berfoto-foto. Sayangnya, walau masih pagi, sinar matahari sangat terang di sini. Kamera handphone tak akan menolong banyak. Paling yang cukup bisa diandalkan kamera I-Phone milik Pur saja. Lainnya... gelap.

Tapi jangan khawatir. Di sana banyak mamang yang menawarkan foto langsung jadi. Murah kok, hanya 10.000 saja per lembar. Dan Fajri berbaik hati mau membayarkan foto bersama kami ini.

Walau terlihat panas, tapi suhu tetap dingin, lo. Iseng-iseng saya minta difoto di tengah pepohonan sama Mas Pur.

Tak lupa juga sebagai penutup kami berfoto di depan tulisan besar “Kawah Putih”. Biar afdol, pastinya. ^_^

Puas sudah kami di atas sini. Waktunya turun, tentu memakai Ontang-Anting lagi. Tenang saja, biaya 13.000 tadi sudah termasuk untuk turun ini.
Saat turun ini barulah kami tahu makna nama “ontang-anting”. Turun di jalan yang curam, berkelok, dengan kecepatan tinggi memang akan membuat siapa saja ter-ontang-anting kanan-kiri. Huwala. Lumayan spot jantung kalau lagi papasan mobil mau ke atas. Sudah begitu mamang supir tenang-tenang saja menyalip mobil di turunan. Aish!

Alhamdulillah, kami selamat sampai di bawah. Di gerbang, Hadi minta waktu untuk sarapan. Akhirnya kami makan bakwan malang yang mangkal di dekat situ.

Setelah kenyang, kita memutuskan pulang. Niat awalnya mau ke kampung stroberi sekalian lewat, tapi menurut informasi ibu-ibu penjual stroberi tadi, saat ini stroberi sedang kecil-kecil karena musim hujan. Hmm, gitu ya. Oke deh.
Kita pulang memakai angkot kuning sampai Terminal Ciwidey, lalu memakai ”oven” L300 sampai Leuwi Panjang. Tapi tidak separah berangkatnya. Kali ini mobil tersebut terasa cukup nyaman. Buktinya kami semua bisa tidur (atau karena kami terlalu capai setelah semalaman bergadang, ya?)
Sampai di Leuwi Panjang hal pertama yang kami cari adalah mesin ATM. Sebenarnya uang masih cukup di dompet untuk sekadar pulang ke Jakarta. Tetapi entah mengapa, pasti akan merasa nyaman kalau membawa uang lebih.

Di sini juga kami berenam berpisah. Fitriya naik bus yang langsung menuju Tangerang. Hadi naik jurusan Cibinong. Pur langsung menuju Pulo Gadung, dan sisanya yaitu Saya, Deshinta, dan Fajri menuju Kp. Rambutan. Perjalanan nekat kami berakhir dengan meninggalkan kesan mendalam. Terutama tentang suhu dingin di Ranca Upas itu.
Setelah sampai Jakarta, saya iseng googling suhu di Ranca Upas malam hari. Hasilnya mengejutkan, suhu di sana bisa mencapai 0°

Pantas saja coki-coki yang deshinta bawa enggak bisa dimakan karena beku.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar